
Dian Rana lahir di Bandung pada 2 Februari 1988. Ia sempat bekerja sebagai pegawai kantoran (back office) sebelum terjun secara penuh ke dunia konten digital. Sejak menetap di Kalimantan Timur dan tinggal di sekitar Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, ia mulai aktif memanfaatkan waktu luangnya untuk membuat konten visual sederhana mengenai wilayah tempat tinggalnya.
Perhatiannya terhadap pembangunan IKN berawal pada 2021. Salah satu peristiwa yang kerap disebut sebagai titik awal keterlibatannya adalah ketika ia tersesat di kawasan hutan eukaliptus di wilayah calon IKN pada 2022, yang kemudian mendorongnya untuk lebih serius mendokumentasikan perubahan kawasan tersebut.
Sejak 2021, Dian Rana secara konsisten mengunggah dokumentasi perkembangan pembangunan IKN dari lapangan. Kontennya menyoroti progres infrastruktur, aktivitas pembangunan, serta dinamika sosial di sekitar kawasan IKN. Perspektif sebagai warga lokal membuat kontennya mendapat perhatian luas di media sosial.
Pada Oktober 2023, ia memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan kantoran untuk fokus penuh sebagai kreator konten. Hingga Juni 2025, kanal YouTube-nya telah memiliki lebih dari 329 ribu pelanggan dengan total tayangan mencapai sekitar 71 juta kali.
Dian Rana kerap hadir dan mendokumentasikan berbagai agenda nasional di IKN, antara lain:
Upacara Hari Ulang Tahun Republik Indonesia pertama di kawasan IKN
Pendaratan perdana Presiden Republik Indonesia di Bandara Nusantara
Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke IKN pada 22 September 2023
Pendampingan kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke IKN pada 30–31 Desember 2025
Selain itu, ia juga pernah mengikuti forum internasional Asia-Pacific Forum on Sustainable Development (APFSD) ke-11 di Bangkok sebagai bagian dari rombongan Otorita IKN.
Di luar aktivitas dokumentasi, Dian Rana aktif sebagai narasumber literasi digital. Ia kerap diundang ke kampus, workshop, dan kegiatan resmi pemerintah daerah maupun nasional untuk membahas peran media sosial yang informatif, bertanggung jawab, dan berbasis verifikasi.
Pada 2024, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur memberikan penghargaan kepadanya sebagai “Pegiat Media Sosial dalam Mengutamakan Bahasa Negara di IKN” atas kontribusinya mempromosikan penggunaan bahasa Indonesia melalui konten digital.
Pada Oktober 2025, Dian Rana terlibat dalam Seminar Nasional bertema “Mendaulatkan Bahasa, Merajut Bangsa, Menembus Dunia” yang diselenggarakan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Dalam kegiatan tersebut, ia dipercaya untuk mendokumentasikan acara sekaligus menyebarluaskan pesan literasi kebahasaan di ruang digital.
Dian Rana menekankan bahwa pembuatan konten tidak semata-mata berorientasi pada jumlah penonton atau viralitas, melainkan pada dampak informasi yang disampaikan. Ia kerap menyampaikan pentingnya verifikasi sumber untuk mencegah penyebaran informasi keliru dan hoaks.
Menurutnya, satu konten yang berdampak dapat memicu penyebaran informasi yang lebih luas dan membangun diskusi publik yang sehat, khususnya terkait isu pembangunan dan kebijakan publik seperti IKN.
Pada 2025, Dian Rana terlibat dalam diskursus publik terkait dampak pembangunan IKN terhadap infrastruktur di Kabupaten Penajam Paser Utara. Pernyataannya dalam sebuah video media sosial mendapat tanggapan dari Bupati Penajam Paser Utara, Mudyat Noor, yang menilai sebagian informasi disampaikan secara tidak utuh.
Menanggapi hal tersebut, Dian Rana menyatakan kesiapannya untuk berdialog secara terbuka dalam forum resmi guna membahas isu IKN secara lebih komprehensif. Ia menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk memperuncing polemik, melainkan membuka ruang diskusi agar publik memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh.
Ajakan dialog tersebut dipandang sebagai upaya mendorong perdebatan publik yang lebih konstruktif dan informatif di luar ruang media sosial.
Kiprah Dian Rana sebagai kreator digital dan dokumentator pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mendapat pengakuan dari berbagai kalangan, termasuk pejabat publik, akademisi, dan tokoh budaya. Mantan Kepala Otorita IKN, Bambang Susantono, menyebut Dian sebagai salah satu pihak yang paling awal dan konsisten mengulas pembangunan IKN dari lapangan. Sementara itu, Nyoman Nuarta, perancang Istana Negara Nusantara, juga menilai bahwa dokumentasi awal mengenai IKN banyak dilakukan oleh Dian Rana.
Pengakuan juga datang dari lembaga legislatif. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai peran kreator digital seperti Dian Rana sangat strategis dalam menjangkau masyarakat secara lebih luas, khususnya generasi muda. Ia menyebut Dian sebagai influencer positif yang menyajikan konten edukatif mengenai IKN dan literasi kebahasaan, serta berkontribusi dalam membantu masyarakat memahami nilai-nilai bahasa Indonesia dengan cara yang ringan dan mudah diakses melalui media digital.
Selain itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga mengapresiasi kontribusi Dian Rana dalam mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia di ruang digital.
Dian Rana tinggal di Desa Wonosari, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, di sekitar kawasan pembangunan IKN.