DIAN RANA

Centang Biru Instagram, Persepsi Publik, dan Cara Kita Memahami Sistem Digital

Di era media sosial, tanda centang biru sering kali dipersepsikan sebagai simbol kepercayaan. Seiring diluncurkannya layanan Meta Verified pada 2023, persepsi tersebut mengalami pergeseran. Centang biru tidak lagi sepenuhnya dipahami sebagai hasil verifikasi autentik, melainkan kerap diasosiasikan dengan layanan berlangganan.

Persepsi ini kemudian berkembang menjadi anggapan umum bahwa seluruh akun yang memperoleh centang biru setelah 2023 dipastikan melalui mekanisme berbayar. Anggapan tersebut wajar, mengingat pada fase awal peluncuran Meta Verified, informasi publik lebih banyak menyoroti aspek langganan dibandingkan sistem verifikasi yang sudah lebih dulu ada.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa sistem digital tidak selalu sesederhana narasi yang berkembang. Pada 2026, Instagram masih menerapkan verifikasi akun secara organik dalam kasus tertentu, meskipun proses ini berlangsung secara selektif dan tidak banyak dikomunikasikan secara terbuka.

Dalam konteks pengalaman pribadi, saya menerima notifikasi resmi dari sistem Instagram yang menyatakan bahwa akun saya telah diverifikasi. Notifikasi tersebut tidak menyebutkan layanan Meta Verified maupun skema langganan. Pesan yang muncul sepenuhnya bersifat sistem, menandakan bahwa proses verifikasi dilakukan langsung oleh platform.

Pengalaman ini bukan untuk menegaskan perbedaan status, melainkan untuk menunjukkan bahwa kebijakan platform bersifat dinamis. Sistem digital kerap mengalami penyesuaian, baik dari sisi fitur, kebijakan, maupun implementasi teknis. Apa yang berlaku pada satu periode waktu tidak selalu dapat digeneralisasi untuk periode berikutnya.

Sebagai dokumentator pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), aktivitas yang saya lakukan bersifat terbuka, konsisten, dan terdokumentasi secara publik. Dalam konteks platform, hal ini membentuk jejak digital yang jelas dan mudah diverifikasi. Namun, proses verifikasi itu sendiri sepenuhnya berada di luar kendali pengguna dan tidak dapat diajukan atau dipercepat secara mandiri.

Fenomena centang biru ini menjadi pengingat penting tentang literasi digital. Baik verifikasi berbayar maupun organik tetap memiliki batasan. Centang biru bukan jaminan absolut atas kredibilitas, dan ketiadaannya juga tidak otomatis menandakan ketidakabsahan sebuah akun.

Yang lebih penting adalah bagaimana publik memahami sistem secara utuh. Platform digital bekerja dengan algoritma, kebijakan internal, dan pertimbangan risiko yang tidak selalu transparan. Oleh karena itu, sikap kritis dan kontekstual jauh lebih relevan dibandingkan sekadar melihat simbol visual di profil media sosial.

Pada akhirnya, diskusi tentang centang biru seharusnya tidak berhenti pada soal berbayar atau tidak berbayar. Diskusi tersebut perlu diarahkan pada pemahaman yang lebih luas tentang autentisitas, jejak digital, dan tanggung jawab dalam mengelola informasi di ruang publik.

Leave A Comment